Langsung ke konten utama

Postingan

Pulau Belitung Pertamaku

Pulau Belitung, pulau impian yang ingin aku datangi selain Pulau Bali dan Lombok. Tetapi, aku kali ini datang bukan dalam rangka wisata melainkan keterpaksaan tugas negara. Bukan saat dan keadaan yang aku inginkan. Bukan aku tidak senang atau bersyukur, tetapi ini lebih mengarah kepada ketidakidealan kondisi aku ke sini. Berat aku terbang ke salah satu surgaku ini. Kehilangan rasa ketertarikanku seketika. Mungkin juga ini karena aku tahu akan lama tinggal di pulau yang telah dikeruk harta karun timahnya. Bekerja di pulau ini untuk beberapa tahun ke depan bukan waktu yang singkat tentunya. Tak apalah. Aku mungkin berjodoh dengan pulau ini atau bisa jadi dengan salah satu gadis pulau ini. Pesawatku tiba di Bandar Udara H. AS. Hanandjoeddin, Kabupaten Belitung sekitar pukul 7 pagi. Hanya 45 menit perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta. Aku membayangkan pulau yang indah, hijau, mengagumkan. Awalnya dugaanku itu benar. Dari atas pesawat aku lihat pulau yang hijau dengan pepohonan...

cerita bintang, gunung, dan awan

Beribu-ribu bintang di langit Hanya satu yang nampak kelipnya Ia muncul di antara celah rapatnya barisan awan Entah dari mana datangnya awan-awan itu Mungkin dari utara? Atau mungkin dari barat? Ah tidak! Ia datang dari arah gunung Dari gunung?

Berkah 2

Aku baru tertarik membaca dalam beberapa bulan belakangan ini. Aku mulai mencoba membaca buku yang menurutku cukup tebal dengan membelinya sendiri, biasanya aku hanya pinjam dari teman. ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ . Ketika aku ditempatkan kerja di Belitung, di KPP Pratama Tanjung Pandan, aku melihat sebuah buku. Buku yang sebenarnya sudah sering kulihat. Namun, baru belakangan ini aku penasaran dengan isinya. Buku itu berjudul "Berbagi Kisah & Harapan: Berjuang di Tengah Badai". Sebuah buku yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Awalnya ketertarikanku terhadap buku ini biasa saja. Hanya bisa menerka-nerka isinya: kumpulan cerita tentang perjuangan menjadi pegawai pajak. Dan ternyata itu benar. Ketertarikanku bertambah ketika tahu salah satu yang memberi testimoni adalah Asma Nadia, penulis hebat yang diidolakan banyak pembaca. Asma Nadia sudah membaca buku ini. " Buku-buku yang baik dan mencerahkan seperti Berbagi Kisah dan Harapan 2, Berjuang di Tengah Bada...

Manado (1)

Kota Manado, salah satu kota yang ingin aku kunjungi. Bukan karena magnet Bunakennya, melainkan entah apa. Aku pun tidak tahu. Hanya penasaran. Aku bukan traveler. Bukan juga backpacker. Hanya memang sekadar ingin singgah saja. Aku tidak tahu ada apa di sana selain Pulau Bunaken. Tidak pernah kudengar sesuatu yang "Wah" tentang Manado yang bisa membuatku penasaran. Dasar memang keberuntunganku. Aku mendapatkan kesempatan ke Manado secara gratis, dibiayai negara lebih tepatnya. Kesempatan itu datang dalam rangka kewajibanku mengikuti kegiatan prajabatan. Ya, aku CPNS saat itu. CPNS di lingkungan Kementerian Keuangan. Dalam draft awal pengumuman pemanggilan, aku dijadwalkan mengikuti prajabatan di Balai Diklat Cimahi. Kegiatan prajabatan dilaksanakan di beberapa kota, salah satunya Manado. Aku mengikuti perkembangan perubahan draft itu. Ada beberapa kali perubahan di daftar nama peserta prajabatan di kota-kota penyelenggara. Hal itu berkaitan dengan beberapa pertimba...

Koki Didit

Laki-laki, ketika ditanya soal hobinya, sebagian besar menjawab olahraga, otomotif, atau musik. Tetapi tidak untuk Didit. Seorang anak laki-laki dari sebuah kampung di selatan Jakarta. Usianya baru 14 tahun. Tengah duduk di bangku kelas 3 SMP. Gusar mamanya yang mengetahui Didit ingin melanjutkan sekolahnya ke SMK jurusan Tata Boga. Mamanya, yang  single parent,  menginginkan Didit masuk ke SMA regular. Yang dianggap lebih universal dan lebih diterima di kalangan industri dan terutama lebih mudah melanjutkan ke jenjang universitas. “Emang apa salahnya sih mah kalo aku mau jadi koki?” tanya Didit kepada mamanya. “Ngapain kamu susah-susah sekolah kalo Cuma mau jadi tukang masak? Mendingan magang aja tuh sama tukang nasi goreng!” jawab mamasambil berkacak pinggang dan menunjuk ke arah luar rumah. “Ih beda mamaaaahh. Koki sama tukang masak biasa tuh beda banget. Tukang masak mah yang penting jadi dan enak di makan. Nah, kalo koki, sebutan kerennya  chef,...

Bumi (tidak) Punya Masa Depan

Hari ini, Senin, 22 April 2013, diperingati Hari Bumi. Hari untuk mengingatkan bahwa kita hidup memerlukan tempat berpijak. Tempat melakukan segala aktivitas: bermain, bekerja, makan, berkeluarga, dan masih banyak lagi. Kita hidup di bumi. Bumilah yang memberikan kita hidup. Kita berhutang budi sangat banyak kepada bumi. Bumi telah memberikan segalanya untuk kita. Air, tanah, udara, dan mineral-mineral penting yang terkandung di dalam perutnya. Bumi memunculkan pepohonan yang menciptakan oksigen dan keteduhan bagi kita. Bisa kita nikmati dan ambil sesuka kita. Bumi begitu baik kepada kita. Mungkin bumilah makhluk yang paling ikhlas di dunia. Bumi begitu pasrah ketika kita mengambil bagian-bagian tubuhnya. Bumi pasrah ketika kita melubangi tubuhnya dan menciptakan lubang-lubang tak beraturan. Bumi pasrah ketika kita menggunduli hutannya. Bumi pasrah ketika kita mencoba mengubah arah aliran sungainya bahkan membelah gunung-gunungnya. Bumi pasrah ketika kita membenamkan beton-...

Suri Wilan

Sore, air laut menyapu pantai. Membawa butiran pasir lalu membawanya pergi lagi. Sepasang kaki putih bersih tenggelam setengah senti di pasir. Kaki milik seorang gadis yang sering dipanggil Suri. Lengkapnya Ifsuri Meilani. Gadis desa, kembang desa, dari keluarga biasa. Cantik mempesona. Rambutnya panjang sebawah pundak, berwarna kecoklatan, keriting agak kusut. Kulitnya tetap putih, mungkin ada garis keturunan China. Tangannya terlipat di depan dadanya. Risau menanti Wilan, kekasihnya. Seorang remaja yang juga dari keluarga biasa. Tidak begitu tampan, hanya saja menjadi pujaan perempuan-perempuan setempat. Dia cerdas, tidak heran jika dia berhasil meraih beasiswa dari sekolah dasar hingga kuliah. Dan sekarang diharuskan berangkat ke Kepulauan Natuna. Beasiswa kuliahnya yang mengharuskannya. Bekerja sebagai teknisi pertambangan minyak dan gas bumi selama 10 tahun. Klausul lain menyebutkan bahwa Wilan tidak diizinkan pulang dan atau menikah dalam jangka waktu 2 tahun pertamanya den...