Langsung ke konten utama

Postingan

Lagi Down

Pernah gak kalian ngerasa tiba-tiba berat banget beban di pundak? Gue pernah beberapa kali. Sebenernya beban berat itu si biasa aja. Tapi emang dasarnya guenya aja yang lemah. Yang bikin nggak enak tuh bebannya dateng dari orang-orang terdekat, misalnya keluarga. Gue tipenya kalo dapet beban berat tuh bisa tiba-tiba langsung down . Down bukan berarti langsung sakit panas menggigil sambil teriak-teriak nggak karuan di tengah malem ampe tetangga pada bangun. Down- nya itu tiba-tiba aja kehilangan mood. Sebagai anak muda sih moody itu biasa, tapi yang ini gak biasa. Gue bisa diem. Diem banget. Yang tadinya menggebu-gebu pengen kemana gitu, bisa gitu aja ngebatalin. Yang lagi seru-serunya main game, bisa gitu aja udahan dan males banget buat main. Biasanya yang gue lakuin kalo lagi kaya gitu, cuma tiduran, rebahan di kasur gue yang gak empuk. Bikin sakit badan itu kasur gue, tapi tetep aja jadi tempat yang paling nyaman kalo gue lagi down gara-gara ini. Soalnya badan gue yang kurus ...

Mari Bercerita

Payung Teduh kembali memperkenalkan karya emasnya. Lagu-lagu Payung Teduh dikenal sangat puitis dan romantis. Ditambah lagi dengan alunan musik Folk Jazz -nya yang syahdu membuat penikmat karyanya semakin merasakan keteduhannya. Salah satu lagu terbaru mereka berjudul Mari Bercerita. Karya-karya sebelumnya membuat kita membayangkan keromantisan si pembawa lagu dengan kekasihnya. Sementara di lagu ini, kita tidak perlu lagi membayangkannya karena lagu ini dibawakan secara duet dengan seorang wanita berparas ayu bernama panggilan Icha. Karya ini karya pertama Payung Teduh yang dibawakan secara duet. Suara mereka yang lembut dan merdu mampu membawa lagu ini ke suasana yang begitu romantis. Sebetulnya menurut penilaian saya, lirik lagu ini tidak sepuitis lagu-lagu sebelumnya. Liriknya sederhana, tetapi tidak menghilangkan romantismenya bahkan semakin dieksploitasi dengan kehadiran Icha sebagai teman duet Is (vokalis dan gitaris Payung Teduh). Berikut adalah lirik lagu tersebut. ...

Kliwon

Indonesia memiliki banyak sekali suku. Beberapa sumber menyebutkan bahwa suku bangsa di Indonesia berjumlah 1.340 suku. Salah satu suku itu adalah suku Jawa. Sebenarnya suku Jawa juga dibagi lagi ke beberapa subsuku, hanya saja aku belum menemukan referensi yang tepat mengenai jumlah pastinya. Seperti suku-suku di Indonesia, suku Jawa memiliki budaya yang unik, salah satunya mengenai kepercayaan. Suku Jawa percaya bahwa kejadian-kejadian dalam hidup manusia berkaitan dengan tanggal lahirnya. Lebih spesifik, kepercayaan itu dikenal dengan istilah wetonan. Sedangkan wetonan memiliki kata dasar weton. Weton merupakan gabungan antara hari dalam penanggalan masehi dengan hari dalam penanggalan Jawa. Dalam sistem penanggalan masehi terdapat 7 (tujuh) hari dalam satu minggu: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Sedangkan dalam penanggalan Jawa, satu minggu hanya memiliki 5 (lima) hari: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Yang dimaksud penggabungan hari dalam weton adala...

Planet Edupro Indonesia

Saya punya pengalaman yang agak buruk di suatu terminal di Jawa Tengah. Pengalaman dengan pedagang-pedagang yang menawarkan barang dagangannya dengan agak memaksa dan menjual kemelaratannya. Sebenarnya saya pun tidak tahu sebenarnya pedagang itu benar-benar melarat atau hanya ingin memancing rasa kasihan saja. Pada akhirnya pun saya membeli dagangan pedagang itu. Entah dari mana datangnya, seorang pedagang lain datang dengan modus yang sama. Dengan susah payah saya menolaknya. Saya kuras isi otak untuk sebisa mungkin menggunakan bahasa Jawa, yang sebenarnya bahasa dari kedua orang tua saya , tapi karena jarang sekali saya gunakan jadi sangat sulit mempraktikkannya. Saya mengerti yang mereka ucapkan dan saya sebenarnya tahu yang harus saya katakan dalam bahasa Jawa. Itu semua hanya melayang-layang di kepala tanpa bisa saya ucapkan dengan lancar. Kelu rasanya lidah ini untuk mengucapkannya. Sial. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk menolak tawaran daganan mereka walaupun akting me...

Dikejar Mengejar

secara teori dan kenyataan,  mengejar lebih membutuhkan sedikit energi daripada dikejar.  ketika kita mengejar, kita tidak memerlukan 100% tenaga yang kita miliki  karena kita terbantu dengan semangat dan ambisi untuk meraih yang kita kejar. sedangkan, ketika kita dikejar,  kita harus mengeluarkan 100% tenaga kita agar tidak tertangkap oleh yang mengejar kita,  sementara kita tidak bisa mengeluarkan 100% tenaga kita  karena sebagian tenaga kita sudah habis oleh rasa takut jika tertangkap. untuk itu, mari kita kejar impian kita untuk mengurangi beban dikejar  oleh sisa waktu kita. Bureaucracy can’t stop me from    writing.

"Umurmu berapa sekarang?"

"Umurmu berapa sekarang?" "22." "Udah punya pacar?" "Belum." "Nyari dari sekarang, umur yang ideal buat kawin tuh umur 25 dan berarti itu sebentar lagi kan?" "Iya sih, tapi belum kepikiran." "Nunggu kepikiran? Keburu tua kamu." Percakapan ini pernah aku alami. Tapi entah kapan dan dengan siapa percakapan ini aku lakukan. Aku lebih ingat kepada isi dari percakapan itu. Percakapan yang penuh dengan pertanyaan dan pernyataan yang menamparku. Menyadarkanku kepada sesuatu. Sesuatu yang amat penting dalam hidupku, mungkin juga bagi hampir semua orang: kawin. Kakakku baru saja kawin dengan pacarnya. Mereka pacaran sudah sekitar 4 tahun. Beberapa jam sebelum pesta perkawinannya dimulai, aku sempat berbincang dengan calon abang iparku. "Udah punya pacar belum?" "Belum." "Nanti sepupuku dateng, orangnya yang tingginya se-kamu, putih, langsing, pokoknya cantik deh. Kenal...

Tentang Pilihan

Hidup ini tergantung kita sendiri mau kita buat seperti apa. Setiap saat kita selalu dihadapkan dengan pilihan. Pilihan itu bisa saja lebih dari satu. Yang paling sulit justru jika hanya ada dua pilihan. Apalagi di antara dua pilihan itu kita tidak dapat menentukan pilihan mana yang cenderung lebih menguntungkan. Keduanya sama-sama memiliki hasil perhitungan yang tidak jauh berbeda. Seringkali kita tidak dapat memutuskan hingga pikiran kita terkuras habis hanya untuk menentukan pilihan yang akan kita pilih. Sebenarnya sederhana saja. Kita tidak perlu mempertimbangkan yang baiknya karena kita pasti sudah siap untuk itu. Yang perlu kita pertimbangkan justru yang tidak baiknya karena belum tentu kita dapat mengantisipasinya. Jika hingga tahap ini belum juga dapat kita tentukan, pilih saja salah satu. Secara sembarang pun tidak masalah, asalkan siap akan segala konsekuensinya. Hal seperti itu juga sering saya alami, salah satunya dengan pekerjaan saya. Dalam waktu satu bulan ...