Langsung ke konten utama

Postingan

Orang Gila Itu Bernama Bob Marino

Siang hari, ketika jam makan siang, aku galau mau makan siang apa. Sehingga aku putuskan untuk tidak makan siang dan hunting foto ke Pantai Tanjung Pendam. Kebetulan siang itu air laut sedang surut yang lumayan jauh. Banyak kapal yang terdampar di pantai tidak bisa digunakan melaut. Cukup indah untuk dipandang dan dipijak, tetapi tidak cukup indah untuk dijadikan objek foto atau memang aku bukan fotografer. Hehe. Setelah puas melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar di titik terdekat dari garis pantai ke Pulau Kalimoa, pulau terdekat dari Pantai Tanjung Pendam, aku beralih ke pantai yang biasa digunakan untuk kegiatan rekreasi keluarga. Daerah pantai, yang masih di Tanjung Pendam, yang masih digunakan untuk kegiatan perlombaan. Sedang sibuk mengutak-atik setingan kameraku, aku diusik oleh seorang kakek berusia 69 tahun. Itu bukan tebakan, karena memang dia lahir tahun 1945, aku lupa tanggal tepatnya. Kakek bercelana jeans itu meminta untuk difotokan dengan latar Pantai T...

Menulis di Kesendirian

Aku ingin curhat. Tolong dengarkan, wahai, Kesendirian! Seperti kebanyakan kegemaran, bagiku, menulis memerlukan teman. Teman yang akan meningkatkan rasa senang ketika menulis. Teman yang membangkitkan rasa ingin menulis. Meskipun aku bukan penulis. Ketika berada di antara teman-teman yang juga suka menulis, terutama ketika bersama teman-teman Birokreasi , aku merasa ada begitu banyak isi kepala yang ingin segera dikeluarkan ke lembaran-lembaran kertas elektronik. Walaupun nyatanya tidak banyak yang kuhasilkan karena aku bukan penulis seperti teman-teman hebatku itu. Ataupun jika sesungguhnya memang ada yang ingin aku tulis, sesegera itu aku urungkan karena hasil tulisanku tidak sanggup menjangkau mereka nun jauh di sana. Aku merasa butuh berada di antara orang-orang seperti mereka. Sempat ada seorang teman baru yang juga memiliki kegemaran yang serupa, tetapi tak berapa lama ia berpindah tempat kerja dan tak lagi bersua. Percik-percik bara kegemaranku untuk menulis masi...

Hati yang Terkoyak

di sini, di dalam sini di dalam hatiku ini ada tanaman berakar tunggang yang tak tergoyahkan badai topan tanaman yang kau tanam dalam kita rawat siang malam akhirnya ia tumbuh tinggi menjulang meneduhi hati yang lama gersang tapi, tanpa peduli kondisi media tanamnya kau cabutnya begitu saja secara tiba-tiba aku tidak tahu kau mendapat kekeuatan darimana hatiku terkoyak serpihan dimana-mana terserak menyisakan lubang besar menganga yang tak tentu bentuk dan rupanya satu hal yang kutahu air mataku takkan jatuh sia-sia bentuk pertahanan terakhir menahan perihnya perih yang mendesak-desak rongga dada biarlah, biar kusendiri yang kembali menatanya serpihan demi serpihan agar siap kembali ditanam oleh pujaanku yang kan segera datang                                                                   ...

Merpati

Merpati terbang melayang Dilepas pemainnya di kejauhan Mencoba kembali dengan radar di hidungnya Untuk bertemu lagi dengan betinanya Merpati berpasangan Setia selalu berdua Apa jadinya jika sang betina dipisahkan? Sang jantan uring-uringan mencari ke sana ke mari Dicoba diganti dengan yang lain Tak akan ia peduli Ia mau betinanya Hanya dia, yang satu itu “Biarlah aku menua sendiri Karena hati ini tak mungkin dibagi Untukmu kujaga hati ini seorang diri Sampai nanti, sampai mati” – Merpati hitam tengkuk Bureaucracy can’t stop me from    writing.

Kopi di Pagi Hari

“Bu!” kataku sambil mengacungkan jari telunjuk. Itu kode yang kuberikan kepada ibu kantin hampir setiap pagi pada hari kerja. Kode yang telah sama-sama kami mengerti. Seperti sama mengertinya antara supir angkot dan penumpang yang mengetuk langit-langit angkot. Sama-sama mengerti walau tanpa adanya perjanjian sebelumnya. Tak sampai satu menit, hadirlah dihadapanku secangkir kopi hitam panas dengan aromanya yang khas. Aroma yang menyentuh lembut indera pembau di dalam batang hidungku yang—untungnya—agak mancung. Sejenak mata terpejam menikmati rangsangan yang datang. Indera pembauku seketika terpenuhi nafsunya. Merangsang otak menyekresikan hormon bahagia. Secepat aliran setrum menyambar, secepat itu pula senyum bahagia terbentuk di wajah. Kata orang, kopi bukan candu, tetapi nyatanya banyak orang sepertiku yang tak sanggup memulai hari tanpa secangkir kopi terkecap di lidahnya. Mata lebih membuka dan semangat lebih terpompa setelah tenggakan-tenggakan penuh kenikmatan. ...

Phonebloks - Ponsel Antigengsi

Telepon seluler (ponsel) dari hari ke hari semakin canggih. Teknologi yang disematkan ke dalam perangkat komunikasi portable ini pun semakin bervariasi dan semakin memudahkan aktivitas manusia. Mungkin pencipta telepon genggam pun tidak pernah membayangkan benda ciptaannya bisa dikembangkan hingga secanggih seperti sekarang ini. Sebuah anomali yang terjadi dari perkembangan telepon genggam adalah harga dari sebuah telepon genggam. Ketika pertama kali diciptakan, harga telepon genggam masih sangatlah mahal. Hanya orang-orang kaya yang dapat membeli telepon genggam. Sehingga telepon genggam dapat menjadi indikator kekayaan. Padahal fitur yang ada hanyalah kemampuan telepon nirkabel yang dapat dibawa ke mana-mana. Atau paling canggih adalah kemampuan pesan singkat yang masih sangat singkat. Bentuk dari telepon genggam pun masih sangat besar dan berat. Salah seorang artis, di sebuah acara bincang-bincang di televisi, menceritakan bahwa dia pernah memiliki telepon genggam sebes...

Malam Pengagum Senja

Vinna Agustina Hartono Biar waktu yang menjawab apa yang harus senja lakukan untuk malam: Top of Form Sartika Noriza KopihitamRasapahit  senja memberi ruang pada siang dan malam untuk bertemu walau sebentar  Vinna Agustina Hartono  Menghantarkan rasa rindu yang tak kunjung sirna..  Sartika Noriza KopihitamRasapahit  ia antitesa dari siang yang merindu malam, antitesa dari malam yang merindu siang.  Vinna Agustina Hartono  Hingga rindu menjelma jengah, ia tak kunjung terlelap. Malam, tak bisakah senja menyapa siang lebih lama? Memuaskan rindu yang tak kunjung sirna Sartika Noriza KopihitamRasapahit  senja tak punya pilihan saat malam menenggelamkannya, senja adalah rindu, antitesa dari cinta yang tak perlu bertemu.  Vinna Agustina Hartono  Aku merapal dalam hati, menghubungkan jejak cinta yang kami miliki, namun entahlah... Sinar itu begitu menyilaukan mata. Sartika Noriza KopihitamRasapahit  keg...